Minggu, 17 Februari 2008

Ibu, kasih sayangmu sepanjang jalan...



Siang ini, tepat duduk didepan saya seorang anak yang beranjak dewasa terlihat bermain dengan dirinya sendiri, berbicara sendiri, mengomenteri apa yang dilihatnya, memegang benda disekitar yang mungkin terasa asing di sekelilingnya. Dari ekspresinya menunjukkan besarnya keingintahuan anak itu terhadap apa yang dia lihat dan rasakan. Sesekali ia mengangkat badan dari tempat duduknya hanya untuk melihat dan merasakan dengan jelas apa yang ada disekelilingnya itu. Karena kelakuan sang anak yang mulai mengganggu keadaan sekitar, sang Ibu sesekali menegur kelakuan anaknya itu.

Sesaat dalam istirahat perjalanan...
Entah mengapa, hati ini senantiasa tertarik untuk memperhatikan setiap gerak-gerik yang mereka lakukan.
Ibu bersama anak itu mulai turun dari bis, mereka terlihat berjalan menuju warung makanan, untuk mencari sesuatu yang bisa mereka makan. Dengan gaya yang terlihat tetap ceria, anak itu terus mengikuti ibunya. Saat anak itu makan, sang Ibu sedang menelpon, Tapi dengan kepolosan sikapnya itu juga sang Anak menarik-narik tangan sang Ibu, terlihat ingin sekali ikut terlibat dalam pembicaraan, namun sang ibu melarangnya dengan menjauhkan jangkauan sang anak dari tanggannya.
Kalau melihat dari garak-garik anak itu, sepertinya dia mengalami gangguan keterbelakangan mental, dalam bahasa medis biasa disebut Autis, tapi mungkin tidak terlalu parah, karena saya melihat tingkah lakunya yang cenderung normal.
Sang Ibu sejak awal saya perhatikan terlihat memperlakukan anaknya kurang dengan perhatian, mungkin sedang ada masalah, terlihat dari raut wajahnya yang tampak tanpa senyum.

Sesaat terbayang dalam benak saya, betapa agungnya Allah yang telah meniupkan ruh kasih sayangNya kepada manusia, sehingga seorang Ibu betapa tidak akan terputus kasih sayangnya terhadap anaknya, apapun kondisinya. Kasih ibu sepanjang jalan. Kasih sayang ibu kepada anaknya tidak akan terbalaskan oleh kebaikan kita sebagai anak, sebesar apapun yang telah seorang anak lakukan. Sebagaimana Allah perintahkan kepada kita untuk tidak mengeluarkan kata "ah" kepada orang tua kita. Dalam sebuah Hadits diceritakan seorang anak yang sholeh dalam hidupnya, lalu menggendong ibunya untuk menunaikan ibadah haji saja tidak cukup, bahkan masih terlampau kecil untuk bisa membalas kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya.

Begitu juga kejadian yang baru saja saya lihat, seorang Ibu yang membesarkan anaknya (dalam keadaan yang tidak normal) penuh dengan kesabaran. Tak terbayangkan jika kita yang mengalaminya sendiri. Atau Jangan-jangan kita tidak akan sanggup untuk menjalaninya.

Bersambung...

Tidak ada komentar: