Senin, 16 Juni 2008

Islam kembali berduka


Lagi-lagi Islam diperlakukan tidak adil. Sesaat setelah terjadinya insiden 1 Juni 2008, bentrokan antara massa Komando Laskar Islam (gabungan dari beberapa dan organisasi Islam) dengan AKKBB (pembela Ahmadiyah), semua media massa memberitakan telah terjadi penyerangan terhadap massa AKKBB dengan tudingan FPI sebagai dedengkot dari kerusuhan tersebut. Selama satu minggu itu pula FPI dipojokkan, seolah-olah FPI adalah biang dari kerusuhan itu. Semua elemen FPI petamburan diperiksa, tak terkecuali pemimpin FPI itu sendiri, bahkan saat ini sudah dijadikan tersangka, walaupun sudah jelas bahwa semua tuduhan itu seperti diada-adakan.
Dua minggu berlalu, semua bukti kerusuhan mulai bermunculan. Hingga saat ini belum ada satupun pihak AKKBB mulai diperiksa, padahal sudah jelas-jelas semua itu berawal dari pihak AKKBB yang melakukan kesalahan, melanggar perjanjian rute demo dan juga ada pihak AKKBB yang terbukti (gambar) membawa (bahkan mengacungkan) senjata api. Jendral KAPOLRI Sutanto sendiri menyatakan di depan DPR bahwa AKKBB-lah yang menjadi pemicu bentrokan tersebut.
Sikap Media?
Bagaimana sikap media saat ini? sungguh ironi. Saat pertama FPI menjadi sorotan, semua mengexploitasinya dengan besar-besaran, semua memojokan pihak FPI, tanpa melihat dari mana sumber kerusuhan itu berawal. Padahal beberapa hari, bahkan saat setelah kejadian itu, pihak KLI (FPI) mengadakan konfrensi pers, dan juga melaporkan semua fakta ini ke pihak berwajib, tetapi kenyataannya media berpihak lain. Nyaris semua media menyalahkan FPI.
Saat ini, dikala sudah jelas bahwa AKKBB yang menjadi biang kerusuhan itu, semua media bungkam, tidak giat memberitakan sebagaimana mereka saat pertama bentrok terjadi.
Secara nurani, saya pribadi tidak setuju dengan kekerasan yang dilakukan FPI, tetapi saya sangat sakit hati dengan perlakuan "anak bangsa" yang tidak adil seperti ini.
Sungguh sakit hati ini melihat kenyataan yang ada. Islam di singkirkan oleh umatnya sendiri.
Sedih, sakit... Namun kebenaran tidak akan pernah kalah.
Ya Allah tolonglah para mujahid mujahidah yang senantiasa ikhlas membela Dienul Islam...
Allohuakbar, Allohuakbar, Allohuakbar...

Silahkan rujuk berita ini Wanted, Death Or Alive!

Do'akan buat hamba-hamba Allah yang tak pernah gentar membela yang haq...

Minggu, 17 Februari 2008

Ibu, kasih sayangmu sepanjang jalan...



Siang ini, tepat duduk didepan saya seorang anak yang beranjak dewasa terlihat bermain dengan dirinya sendiri, berbicara sendiri, mengomenteri apa yang dilihatnya, memegang benda disekitar yang mungkin terasa asing di sekelilingnya. Dari ekspresinya menunjukkan besarnya keingintahuan anak itu terhadap apa yang dia lihat dan rasakan. Sesekali ia mengangkat badan dari tempat duduknya hanya untuk melihat dan merasakan dengan jelas apa yang ada disekelilingnya itu. Karena kelakuan sang anak yang mulai mengganggu keadaan sekitar, sang Ibu sesekali menegur kelakuan anaknya itu.

Sesaat dalam istirahat perjalanan...
Entah mengapa, hati ini senantiasa tertarik untuk memperhatikan setiap gerak-gerik yang mereka lakukan.
Ibu bersama anak itu mulai turun dari bis, mereka terlihat berjalan menuju warung makanan, untuk mencari sesuatu yang bisa mereka makan. Dengan gaya yang terlihat tetap ceria, anak itu terus mengikuti ibunya. Saat anak itu makan, sang Ibu sedang menelpon, Tapi dengan kepolosan sikapnya itu juga sang Anak menarik-narik tangan sang Ibu, terlihat ingin sekali ikut terlibat dalam pembicaraan, namun sang ibu melarangnya dengan menjauhkan jangkauan sang anak dari tanggannya.
Kalau melihat dari garak-garik anak itu, sepertinya dia mengalami gangguan keterbelakangan mental, dalam bahasa medis biasa disebut Autis, tapi mungkin tidak terlalu parah, karena saya melihat tingkah lakunya yang cenderung normal.
Sang Ibu sejak awal saya perhatikan terlihat memperlakukan anaknya kurang dengan perhatian, mungkin sedang ada masalah, terlihat dari raut wajahnya yang tampak tanpa senyum.

Sesaat terbayang dalam benak saya, betapa agungnya Allah yang telah meniupkan ruh kasih sayangNya kepada manusia, sehingga seorang Ibu betapa tidak akan terputus kasih sayangnya terhadap anaknya, apapun kondisinya. Kasih ibu sepanjang jalan. Kasih sayang ibu kepada anaknya tidak akan terbalaskan oleh kebaikan kita sebagai anak, sebesar apapun yang telah seorang anak lakukan. Sebagaimana Allah perintahkan kepada kita untuk tidak mengeluarkan kata "ah" kepada orang tua kita. Dalam sebuah Hadits diceritakan seorang anak yang sholeh dalam hidupnya, lalu menggendong ibunya untuk menunaikan ibadah haji saja tidak cukup, bahkan masih terlampau kecil untuk bisa membalas kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya.

Begitu juga kejadian yang baru saja saya lihat, seorang Ibu yang membesarkan anaknya (dalam keadaan yang tidak normal) penuh dengan kesabaran. Tak terbayangkan jika kita yang mengalaminya sendiri. Atau Jangan-jangan kita tidak akan sanggup untuk menjalaninya.

Bersambung...